#dramaksara

Berkomitmen dengan Orang Aneh

Bagi sebagian orang, memilih untuk berkomitmen sangat berat. Ada juga yang menganggap komitmen adalah hal yang mudah. Aku, adalah sebagian orang yang menganggap itu berat.

Bagaimana tidak, di hari pertama kita bersama, aku harus berdamai dengan orang aneh sepertimu, yang dengan caramu memencet pasta gigi yang dari tengah itu. Sangat aneh! Kemudian, aku harus menghela napas lebih panjang saat kau meletakkan handuk di atas kasur busuk yang bertahun-tahun lalu sudah kugunakan. Apakah tidak makin busuk kasurnya? Hhhhh..

Selera musikmu yang sungguh berbeda jauh, meme yang terkadang bagiku lucu, bagi mu tidak. Berisikmu menonton film hingga larut malam pun sangat mengganggu jam tidurku!

Berdebat denganmu hanya akan membuat lelah, karena kau tidak pernah menyelesaikan segala pertanyaan yang ku lontarkan dalam emosi. Bagaimana tidak emosi, jika harus menerima bahwa kau entah dimana menaruh pasangan kaos kaki?! Bagaimana cara ku memakai kaos kaki yang hanya sebelah ini?!

Berdebat denganmu hanya akan menyisakan dahak di tenggorokan karena tentu saja kau tak akan dengarkan.

Tapi bukan berarti, kau memang begitu anehnya sehingga aku tidak bisa maafkan. Untuk apa ku maafkan, kalau besoknya tetap begitu, bukan?

Mungkin memang pembiasaan yang terjadi padamu, tidak sama dengan apa yang ku biasa lakukan. Metode mencuci piring, bagaimana cara membersihkan lantai kamar mandi, tentu saja tidak sama dengan apa yang biasa ku lakukan, karena memang ini adalah pembiasaan baru yang kau harus terima perlahan.

Satu kata yang selalu kau jawab kepada siapapun saat ditanya bagaimana rasanya menjalin komitmen sampai mati: Belajar.

Pernikahan itu seperti belajar. Belajar sampai mati. Belajar menerima perbedaan satu sama lain. Belajar memaklumi kekurangan masing-masing, dan saling melengkapi satu sama lain. Tidak harus sempurna, setidaknya proses belajar yang dilakukan bersama sudah maksimal.

Ku biarkan kau belajar untuk bagaimana menyemai rumput di halaman. Ku biarkan juga kau untuk mengulek cabai, memasak lado, meracik kue nastar, dan segala hal yang tentu saja sudah biasa ku lakukan.

Lalu, apa yang ku pelajari?

Tentu saja kamu tidak belajar sendirian, sayang. Aku sedang belajar untuk lebih sabar dengan segala proses yang kita jalani. Berusaha sabar untuk segala langkah yang sedang dijalani bersama. Aku belajar juga, untuk tidak menggerutu terlalu lama jika kamu melakukan hal yang ceroboh, karena tentu saja aku pun tak luput dari kecerobohan itu, bukan?

Aku juga sedang belajar untuk memberikan telinga dan mendengarkan keluh kesahmu sampai salah satu dari kita pulang lebih dulu.

Terlepas dari apapun yang kita selalu berselisih paham, segala yang tidak kita sukai satu sama lain, aku selalu bersyukur untuk dipertemukan denganmu. Terima kasih telah menjadi kau yang tentu saja sangat menyebalkan, tapi tidak pernah lelah untuk belajar. Terima kasih, telah berjuang tanpa lelah untuk menerima perbedaan-perbedaan di sekitar kita.

Selamat ulang tahun,
Terima kasih, untuk tetap hidup dan belajar bersama




Menghitung Waktu

Sebentar lagi,
bukan waktu yang singkat
untuk melupa, dan menyambut yang ada

Sebentar lagi,
bukan waktu yang cepat
untuk melangkah, dan memeluk yang ada

Kelak, mungkin tidak akan ada lagi
Romansa dalam malam yang dingin
Cengkerama lewat telepon genggam
atau sekadar bertukar gambar

Karena tak hanya rindu yang mulai berlabuh
Tapi diri ini
Mulai menetap
Memasang jangkar pada pulau terakhir yang disinggah

G,
25/02/20

Berita Duka Cita

Telah berpulang
Pejuang asa
Pembela keyakinan
Memperjuangkan segala mimpinya; untuk bersama


Menembus angan
Untuk menatap dan melekat dalam matanya
Pada akhirnya harus gugur
Di belantara terdalam

Rindunya berpulang
Saat ia sadar
Tak lagi berharap
Pada asa yang tak berlabuh


Akan dikebumikan
Pada tepian hutan
Tempat ia memburu sorot matamu
Yang mengerling; pada orang lain

Satu kata yang akan ia ingat selalu,
"Maaf, kita hanya bisa jadi teman"


180319
-G-

Sajak yang Tak Indah




Ini mungkin bukanlah sajak terbaik yang ku rajut, tapi inilah apa adanya: Sebuah sajak yang tak indah

Gema kembang api melejit ke angkasa
Bersama gemercik hujan yang turun
di awal tahun yang baru

Aku tak ingin merangkai yang indah-indah
Karena semua mungkin saja hanya kata
Bukan tindakan yang sugguh nyata manusia mampu lakukan

Sudahlah, tak perlu bermanis manja!
Semua kemesraan tak lagi ada guna
Bukankah sebaiknya tindakan yang kelak menjadi nyata?

Waktu berlalu begitu cepat
Hampir setahun waktu berjumpa
Menapaki alur yang begitu saja

Kalimat aksara penuh kata merindu sebuah raga
Tak lagi ada
Sembuyi ia ragu memunculkan nama

Betapa anehnya sajak ini
Tak punya rima bagai kepala yang tak ada isinya
Bagai elit politik pendukung satu dan dua

Bagai mereka yang kosong tapi nyaring
Susah-susah kuliah di luar negeri
Hanya buat telinga khalayak berdengung

Yang pada akhirnya
Aku menyerah
Pada bahumu yang sesekali ku gigit manja
Tempatku nantinya berkeluh kesah
Dibawah pelita bulan purnama bukan Basuki Tjahaja

Atau jika kau ingin sajak ini lebih indah
Akan ku percantik degan cerita anak-anak bulu
Yang setiap hari harus berebut mencari peluk
Lewat bahumu yang tak pernah sendu

Dan pada setiap peluh,
Lagi-lagi aku terjatuh
Merangkai sajak yang tak pernah indah
Untuk kita; pada setiap langkah

-

01/01/19
-G-





Siapa Kau Sebenarnya?

Mungkinkah kau sebenar-benarnya pelintas waktu; terbang dari masa depan, melewati ribuan andromeda untuk bisa melambai dan mengulurkan tangan dalam kerumunan petang itu, menentang gravitasi dan segala gerak materi.

Mungkin kau memang bukan mahluk bimasakti, entah kau berasal dari Kripton atau Namec --atau dari planet Megathobia. Jujur saja pada ku, kau sebenarnya datang dengan mesin waktu, tersesat di bumi dan ditemukan di bukit belakang sekolah oleh Nobita, kan?

Tapi, jika kau memang benar adanya datang dari masa depan, sepertinya tidak mungkin. Selain menentang termodinamika kedua, memutarbalikkan waktu berarti juga memutarbalikkan momentum pergerakan seluruh partikel di alam semesta. Sulit sekali rasanya perjalanan kau merubah pergerakan alam semesta untuk menemui saya.

Tutup cerita tentang perjalanan ke masa lalu. Mari kita coba gunakan kiblat Hawking yang tak percaya mesin waktu bisa dibuat. Kau muncul dari alam semesta lain. Hal termudah dari memahami itu semua ialah lewat kebetulan. Kita buat probabilitas atas apa yang terjadi di sore itu, mengalikan segala kebetulan atas tindakan yang akhirnya kau bulatkan. Atau malah sebenarnya, kita hanya berjalan dalam Deja Vu?

Astaga! Bagaimana kalau kita sudahi percakapan atas dunia kuantum yang tak kunjung selesai dibahas ini? Newton sudah katakan berulang kali bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini, karena semua hanya kebetulan. Anggap saja, pertemuan kita ialah sebuah kebetulan. Skenario yang tak akan pernah terencana.

Lelah menerka, siapa kau sebenarnya. Menjelajah ruang, terjerembab dan bertemu dengan saya sepertinya bukanlah hal indah yang kau harapkan. Atau memang kau tak ingin lagi melesat cepat; memilih melambatkan waktu agar bisa menyamai dunia pararel yang saya miliki. Tapi, untuk apa?

Jika seseorang bisa melakukan perjalanan dengan kecepatan cahaya, mereka akan menjadi abadi.

Atau sebaiknya saya saja yang mengatur waktu agar bisa menyamai kecepatanmu? 

Hmm, kalau begitu, mari ajarkan saya untuk melesat dengan kecepatan cahayamu! Menjelajah waktu di masa depan, tanpa perlu khawatir dunia pararel siapa yang sedang disinggahi. Satu frekuensi yang padu, kata mereka.

Entahlah, kebetulan apa lagi yang akan tercipta pada tiap-tiap detik yang akan kita lalui?





Jika menjelajah masa lalu bertentangan dengan hukum fisika, bagaimana dengan perjalanan ke masa depan? Masihkah berkutat dengan segala kebetulan?




Tunjukilah kami jalan yang lurus,(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(QS 1:6-7)



28/5/18
-G-

Andaikata
















Kita ragu, maka kita berjanji
Berbagi cerita bunyi pasti
Menghias diksi yang hati-hati

Tentang kisah bekal pagi sebelum pergi bekerja
Kecupan dan doa-doa sebelum fajar
pada suatu ketika
yang masih disangsi
Untuk segala hari, memutuskan berhenti menulis dalam sepi
dan berbagi pada telinga yang tak kenal lelah mendengar cerita

Untuk suatu pagi yang tak lagi berandai
Untuk segala petang yang bercerita tentang hari ini
Untuk segala hati, yang tak lagi kenal nanti


14/05/18
-G-

Mendamba Rumah

1-
pada jendela kaca ular besi yang terbuka setengah

mencari nafas pada lima sore yang ramah
ular besi berhenti tiap titik, namun tak ada saling menoleh
mata bersilang; tak ada lagi senyum gairah
tenggelam pada runut angka di pergelangan, berdetak tanpa lelah
demi satu-dua jam bersua: rumah

2-
pada koridor-koridor tak bertuan
menanti kotak besi datang mengantar harapan
kepala tertunduk, memantau langkah kaki yang serima
menuju pemberhentian selanjutnya ke ujung sana
jangan salahkan kantuk atau bosan
karena mereka tetap bungkam hingga perbatasan
barisan lampu dari belakang mobil yang merona
beradu dengan senja yang mulai tiada
hanya satu yang diinginkan: rumah
tempat mereka membagi lelah

3-
aku, kamu, kau, mereka, semua
hanya ingin pulang
pada rumah
tempat berkeluh kesah
merebahkan diri
dan nina-bobo oleh detik yang terus bergerak
membawa pagi kembali datang
mengulang yang sama
hingga pagi tak lagi ada untuk kita semua

kita nantinya akan pulang
pada rumah yang tak lagi dunia


Foto oleh: MIG



11/05/18
-G-

Fragmen

Mari berbagi cerita padaku, tentang warna fajar dari ujung barat muka rumahmu, tentang kabar halaman belakang yang pasirnya berbisik rindu, dan cerita tentang gunung dan laut yang sedari dulu lekat hangat memelukmu.

Atau aku coba nyanyikan padamu, segala aksara yang ku rapal pada malam-malam penuh luka, tentang merpati yang terpatah sayapnya, tentang gulita dan bintang berpendar, atau serupa detik ini, dimana aku merangkul kesal dan rindu yang menyatu dalam tangis.

Musim lalu kita menari di hamparan savana. Dandelion berterbangan mengucap selamat karena langkah kaki berhasil membawa kita pada zona yang entah tak pernah kita ketahui rimbanya, namun berharap suatu yang padu.

Kau tahu, apa yang kusematkan pada sang fajar di muka rumahmu, pasir pantai, malam gulita dan yang kubisikkan pada segala tempat pertemuan dan perpisahan kita? Pada bandara, stasiun, terminal, bahkan pada ribuan pijakan kaki kita pada titik yang tak pernah berpindah?

Aku merindukanmu, sejak elegi memunculkan kepingan fragmen masa depan untuk disusun sembari menunggu konstanta yang tercipta dari segala pertemuan dan rasa yang ada. 

Satu, lima, sepuluh hingga seratus tahun lagi, akan tetap ku alunkan rasa yang sama, pada sebuah makna dalam perjalanan.

Untukmu, pendengar setiaku.. 
Lekas ceritakan padaku, tentang senja yang kau tangkap lewat kameramu, atau kotak-kotak besi berwarna yang bertugas mulia menjemput mereka, karena aku tak mampu mengingat selain rasa tenang dan senyum bahagia di wajahmu saat kutemani dirimu mengejar segala mimpimu.

09/05/18
-G-

Menjadi Laut



Aku ingin menjadi laut

Yang berbatas awan saat fajar dan senja datang

Yang berdebur saat sepersekian detik airnya bertemu karang

Saat kau datang, akan ku suguhkan pelukan pasir putih dan kelapa muda yang menyegarkan

___

Aku ingin menjadi laut

Tempatmu menjala semua ikan yang kau jadikan harapan

Tempat kau berani menantang hari tanpa takut kehausan

Tempatmu melempar mimpi dan berharap kau temukan lagi suratnya di ujung waktu

___

Aku ingin menjadi laut

Yang kepadaku, kau akan rela menyelam

Hingga jauh

Hingga habis napasmu

___


02/05/18
-G-

Kekangan Jiwa

Tuk.. tuk.. tuk..
Tuk.. tuk..
Tuk..
..
.

___


Dalam kekangan jiwa aku berteriak
Kencang hingga tanpa suara
Lenyap sudah kekuatanku
Tak mampu angkat kepala;
Bersujud pilu, tak ingin terlihat


Dalam kekangan jiwa aku bungkam
Kosong tapi tak mati
Berkali bising datang, berkali pula hilang
Ingin segera berdiri
Ingin kaki berderap lari
Seperti Paskibra, langkah tegak maju jalan


Dalam kekangan jiwa aku mencari
Memaksa diri membuka mata
Tak ada yang sudi menetap
Hanya berdiam lama dan pergi mencuri semua


Siapa yang sudi dengan perempuan yang terlalu cinta pada dirinya sendiri, hingga tak mau menuruti kata mereka?


Siapa yang sudi dengan perempuan yang selalu ingin semestanya bahagia, hingga tak pernah sadar bahwa ia tak pernah sungguh bahagia?


Dalam kekangan jiwa aku merangkak
Mengambil serpihan rasa yang sekiranya bisa aku berikan putih telur lalu aku rekatkan kembali pada hati yang tak mampu lagi merasa hati siapapun yang hadir
Memaksa diri menginjak beling padahal bukan pemain debus
Menggantung harap yang siap sedia diulur bagai layang


Dalam kekangan jiwa, aku mencari tenang
Entah dimana

Sedang merasa seperti Nobita yang banyak ingin tapi tak mau bergerak.

Ingin ini,
Ingin itu,
banyak sekali..

Sayang seribu sayang, saya tidak punya Doraemon yang cukup korak-korek kantong dan menemukan alat untuk menolong Nobita.

Saya sedang merasa seperti Nobita yang tak punya Doraemon. Apa jadinya, ya?

Kemana semangat saya yang dulu?

Tampar saya, siapapun.

Saya butuh maju.

Aku hanya ingin didengar,
Selayaknya aku ingin selalu mendengarkan

Tak peduli bohong atau fakta, tapi memberi telingaku untuk kau ceritakan segala isi duniamu hari ini sudah cukup membuatku berguna.

Bukankah itu yang disebut komplementer?

Kekhawatiran

Kamu pernah jatuh cinta namun penuh kekhawatiran?

Seperti ingin berenang tapi takut tak timbul lagi ke permukaan, padahal kamu bisa berenang

Aku takut terlalu dalam, seperti yang lalu, meminta tenggelam

Aku tersesat; dalam jiwa yang selalu mengajak tertawa
Aku tersesat; dalam raga yang berusaha hadirkan tenang

Aku hanyut. Terbawa arus yang cukup deras namun sesekali tenang walau belum mencapai hilir.

Tapi lagi-lagi tuan, aku takut.

Aku bisa merasa bahagia tapi aku takut semua hanya fana, hingga akhirnya terbakar, bersisa jelaga.

Aku khawatir, semua di masa depan adalah masa lalu yang berulang.

Aku terjebak,
Dalam kekhawatiran

Namun aku memang sudah terjebak

Atau aku sebenarnya hanya takut kehilangan yang berulang?

Yang Ku Lakukan Delapan Menit Sebelum Mendarat

Aku tidak lagi percaya kepada manusia
Siapapun itu

Mulut mereka hanya berisi dusta
Tak lagi yakin untuk satu

Bahkan saat kamu datang, aku tak yakin bahwa kamu akan sama seperti mereka
Atau kamu memang tidak sama dengan mereka
Aku tidak tahu

Jadi, maukah kau tunjukkan segala
Segala apa yang aku tak lagi percaya dari manusia
Segala apa yang tak lagi aku yakini dari mereka
Dan segala yang buktikan kau bukan bagian dari mereka

Sebelum aku ceritakan semua mimpiku tentang kita, yang selalu ku tulis setiap hujan reda, saat pertemuan kita kamis petang lalu

Selamat datang, Petrikor yang selalu datang saat pelangi mulai terlihat semburatnya
Sepertinya kau akan jadi bagian dari drama aksara
Dan semoga, kau bukan bagian dari drama yang ada
Jika kau bisa tunjukkan bahwa semua memang nyata adanya

Dan tak berharap mati dalam tulisan,
Seperti yang pernah ada

Delapan menit sebelum mendarat,
Bahkan pesawatku sudah melesat
Ingin kembali menggapai lengan dan memeluk erat

Jangan pergi, sebelum terlihat
Jika semua memang sudah tersurat

05/04/18
-G-

Belahan Bumi yang Mana?

Di belahan bumi mana lagi
Kita harus berpapasan

Di bagian pulau mana lagi
Kaki kita bertemu dalam pijakan

Di bagian hari mana lagi
Hembus angin memanggilmu, sedu-sedan

Tapi kita tak kunjung jumpa

Dan di bagian detik mana lagi
Aku masih tak bisa menyatakan

Bahwa aku menemukan
Kamu
Yang ingin maju ke depan
Dan rela maju lebih dulu untuk sekadar mundur memberi minum
Menarik tangan dan berlari kedepan
Saat raga ini masih ragu bahkan untuk berjalan

Semesta, aku sedang lelah melaju
Bolehkah ia kupasrahkan padamu?
Kali ini aku tak lagi melawanmu
Silahkan, jalankan rencanamu

Karena takkan ku biarkan lagi siapapun akan hadir hanya untuk buat semua porak poranda



05/04/18
Pada 23.000 kaki
-G-

Betapa saya tidak suka olahraga lari

Saya tidak pernah suka olahraga lari setelah ayah dan kakek saya meninggal dunia.

Pun juga, seseorang meninggalkan saya karena lari. Lebih nyaman berlari berdua dengan yang baru dibanding saya yang hanya suka jogging, ujarnya.

Yang setia akan selalu kalah dengan yang selalu ada memang benar adanya.

Tapi semesta berkata lain,

Sepertinya kali ini saya harus memulai lagi berlari. Sudah terlalu lama aku hanya jalan di tempat, bahkan sekadar mengamati orang-orang yang berlari.

Mereka -- dan kamu, sudah berlari ribuan kilometer

dan saya masih terdiam saja disini,

Saya harus maju,
Harus.

Arena Pertandingan

Aku dan kamu bagaikan dua petarung yang bertemu dalam suatu pertandingan. Tanpa ragu, aku akan melawanmu dengan segala kemampuan dan jurus yang aku punya. Takkan ada celah untukmu melawan. Aku tidak ingin dan tidak akan mengalah karena alasan cinta. Bukan aku tak mau kamu menang, hanya saja aku ingin kamu benar-benar berjuang sebagai pemenang.

Aku ingin mencintaimu dengan tangguh, lewat dua tangan saling menggenggam berpeluh, dengan sekuat tenaga untuk sama-sama bertumbuh. Walau waktu memaki mundur, cinta ini masih bergeming untuk maju.

Kau ingin melawanku? Silahkan.

"Tidak mau menyerah saja?"

Tidak. Belum. Tidak sekarang.

Aku percaya jika manusia didesain keras kepala, meyakini apa yang diyakini sendiri, mempunyai harapan yang terlihat bodoh dan terus mencoba meski terlihat sia-sia. Diberkahi logika meski sering mendadak tak berguna oleh sebab perasaan absurd yang lebih diunggulkan; aku sebut cinta.

Terkait jera, aku pun percaya jika ada batas untuknya, hanya aku sendiri yang akan tahu batasnya. Mungkin, di saat logika mendadak berfungsi lebih baik, tersadar bahwa kamu takkan lagi bahagia di sini, atau karena aku jenuh menunggu kamu menoleh sedikit kepadaku.

Yang jelas aku belum jera, aku belum jenuh. Entah belum, atau tidak mau. Aku masih ingin mencoba, aku masih ingin kita bertarung. Dalam Tuhan dan ujar semesta, aku meyakinkan dirimu.

Hingga pada akhirnya, mungkin aku yang tak mendapat sesuatu yang aku ingini, hanya terlalu jumawa menganggap kamu akan kembali,

ku yakin suatu hari nanti aku akan bertarung sendiri,

melawan ego yang masih memantik nyala untukmu.

Dalam genggaman-Nya, aku kalah dan mati,
Menelan rasa yang ku kunyah hingga nanti.

Bermain Peran

    maukah kamu, berpura-pura
    untuk mencintaiku
    seperti kata-kataku
    yang membubuhkan drama aksara

    hanya mereka
    yang selalu bisa
    menggabung kata, frasa, hingga nada
    tentang dirimu, yang mulai tiada

    maukah kamu, berpura-pura
    hingga kau habiskan waktu bersama
    agar terbiasa
   
    jika memang tak bisa
    izinkan aku yang pura-pura
    seolah aku berhasil melupa
    bayangmu dari renjana
    dan kau selalu tahu jawabnya

26/01/18
-G-

Aku (Masih) Ingin


            Saat ini aku berjalan dalam kerinduan. Kerinduan akan semua tawa bahagia kala kejutan-kejutan kecil seperti memberikan kue-kue untuk bekal kuliahku, atau membuatkan susu hangat menyambut pagi harimu. Atau hanya kecup mesra keningku sembari berkata bahwa kau mencintaiku. Kerinduan akan gelas-gelas kopi kita dalam gelap malam menanti fajar – kencan terindah yang selalu buat senyumku merekah kala kupejamkan mata dan membayangkanya kembali.


            Setapak demi setapak langkahku semakin cepat, berlari menuju saat dimana ku temukan sorot matamu teduh merengkuhku dalam hangat pelukmu. Sorot mata yang selalu yakin akan selalu menemaniku hingga ku terbatuk menua dan mati dalam pelukmu. Berlebih, namun aku yakin kaulah sorot mata yang ku ingin temui saat pagi menjelang dan mata yang ingin ku kecup kala mentari terlelap dalam singgasananya. Kaulah, sorot mata yang selalu menghangatkan dinginku, menenangkan tangisku, serta meyakinkanku maju.

            Kali ini ku paksakan masuk ke dalam ingatanku yang makin dalam. Merasakan rengkuhan tanganmu yang selalu siap menjagaku kala jalanku mulai tak benar. Jemarimu yang selalu bertaut di jemariku – untuk nyatakan pada dunia bahwa aku milikmu. Jemarimu yang siap mencubit pipiku gemas atau menepuk keningku perlahan kala aku bertingkah bodoh didepanmu. Merasakan jemarimu yang siap menarik kepalaku ‘tuk curi kecup keningku.

            Tubuh tinggi dan letup dadamu yang selalu ku rindukan. Bahu yang selalu siap menjadi tempat ku meneteskan tangis bahagia atau sekadar bercerita duka. Bahu yang selalu menjadi tempat ku bersembunyi kala ku takut dari dunia serta kenyataan yang pahit. Punggung yang membuatku ingin berlari dan berloncat memeluk. Punggung lapang yangtak pernah ku nikmati saat kau berjalan pergi.

            Aku memutar arah; kembali berjalan menuju realitas setelah puas dengan euforia kemarin. Mendapatkan kamu yang sorotmu mendingin. Seakan enggan menatap serta menghangatkan lagi. Teduh yang ku miliki dari sorotmu mulai hilang menjadi beku. Senyumku tak lagi cairkan, bahkan rengkuhku tak lagi terangkan sepasang mata indahmu.

            Tak bual, aku pun kecewa pada sikapmu yang mulai membangun dinding tinggi di antara kita. Segala pertemuan tak lagi memiliki kesan di matamu. Benar katamu, setiap pertemuan kita yang jarang selalu saja diisi oleh pertengkaran kecil atau masalah lalu yang tak terselesaikan. Semakin jauh kita berjalan, entah mengapa semakin banyak yang kau sembunyikan. Aku mempercayai segala tentang dirimu, yang ternyata kau punya sisi lain yang kau sembunyikan. Seakan semua orang menghujamku dengan masa lalumu, kau meyakinkanku bahwa tak ada apa-apa lagi dengan yang lalu. Namun mengapa, keyakinanmu kau dustai dengan pertemuan yang kau sembunyikan?

            Aku tak ingin, sayang. Aku masih ingin berjuang. Aku masih ingin membagi segala cerita bodoh dan konyolku di hari ini, masih ingin menikmati punggungmu yang membuatku selalu ingin berlari memeluk. Masih ingin menatap dengan lekat sorot mata teduh yang selalu menenangkan – meyakinkan bahwa aku akan aman bersamamu. Aku masih ingin mengabadikan dirimu dalam segala gambar ke penjuru alam. Aku masih ingin merasakan sentuhan jemarimu menyentuh keningku, dengan senyum jenakamu menggodaku. Aku masih ingin menikmati gelas-gelas kopi sembari menikmati rembulan turun tahta berganti fajar yang siap menyembul dari langit gelap Bandung atau belahan bumi manapun, aku masih ingin bersamamu. Aku masih ingin melihatmu menikmati permainanmu atau berkutat dengan pekerjaanmu hingga kau tertidur lelap dan bermimpi tentang kita.

Aku ingin, ingin sekali,
Melihat sorot mata teduhmu saat ku bangun dari tidur, serta mengecup mata mu kala larut malam datang.

Pegang jemariku lagi
Aku masih ingin, sayang.


Aku ingin.
Bersamamu.

Semoga, begitupun denganmu.


23/01/18
-G-

Sekali Lagi

Kata mereka, obat rindu itu jumpa.

Tapi aku ingin bertanya,


Apakah setelah jumpa aku masih bisa katakan rindu?


Mungkin aku masih terus merasa rindu

Karena aku selalu merindukan hatimu yang sedang berkelana
Untuk kembali pulang

___


Ah, hari ini aku tidak lakukan apa-apa

Bolehkah aku hanya merindumu saja?
Semoga kamu juga,
Merinduku
Walau tak sebanyak aku

__



07/01/18
-G-


Untukmu:

Untukmu:
Back to Top